Gambarnya diambil dari sini
Untungnya (apa sih yang nggak untung buat orang Indonesia?), gue membentengi diri dengan lafaz "gak punya mobile/sms/internet banking" Alhamdulillah wa syukurilah. Males lah gue curi-curi waktu (lagi) pergi ke ATM terdekat. Yang mana jarak ATM terdekat itu cuma 10 menit jalan kaki aja ke jalan besar. Kalau gak banjir. Kalau gak panas. Kalau gak disuruh bos membuat laporan ke pusat.
Jadi untuk beberapa kasus gue selamat. Rekening gak kebobolan.
Tapi ada saat dimana tiba-tiba di sebelah meja muncul teman kantor yang baik hati, suka meminjamkan mobile bankingnya untuk dipergunakan di jalan sesat. Jalan orang-orang yang tergoda untuk online shopping perintilan yang nggak penting-penting banget. Jalan penuh lika liku display baju yang cocok dipakai model tapi belum tentu pas di badan gue yang seseksi minion ini. Dan berkubanglah gue di jalan ini. Segala dibeli, mulai dari baju, sepatu, tas, kosmetik, jam tangan, underwear, alat-alat rumah tangga, sampai popok bayi sekali pakai yang sebenarnya di supernarket sebelah rumah harganya lebih murah dibanding harga diskon online shop plus ongkos kirim volume bulknya. Susah memang melepaskan diri dari online shop. Sebagai wanita yang fitrahnya adalah berbelanja, berusaha untuk tidak online barang sepuluh menit atau tidak bertukar info diskon di grup whatsapp dan BBM bagai mendaki gunung Olympus. Ribet dan jauh aja bo harus ke Yunani!
Gue inget dulu pernah nonton Oprah episode hoarders. Para hoarders ini kemudian dibuat serialnya. Ngeri juga yah banyak ternyata orang-orang di dunia ini yang punya kecenderungan menumpuk barang yang sebenarnya tidak mereka perlukan. Semua dibeli, dikumpulkan, dipungut, dan tidak boleh dibuang. Bahkan barang-barang yang sebenarnya layak masuk kategori sampah. Mudah-mudahan gw bukan termasuk golongan hoarders ini. Sebisa mungkin saat akal sehat masih bisa meredam nafsu belanja, gue memikirkan dahulu apakah barang yang akan dibeli ini masih ada substitusinya yang masih bisa dipakai di rumah atau nggak. Satu tips dari Oprah saat itu, ketika kita membeli satu barang baru maka kita harus mengeluarkan satu barang lama dari rumah. Apakah itu dikeluarkan untuk masuk ke tempat sampah karena sudah rusak, atau kalau masih layak kita sumbangkan kepada orang lain yang membutuhkan. Kalau di akuntansi ada istilah FIFO (first in first out), maka istilah yang tepat untuk ini mungkin OIOO (One In One Out). Ribet juga yah bilangnya, mirip suara Tarzan saat berayun di hutan.
OIOOOO.. let's go shopping ke belantara mall!! Kemudian dilempar tumpukan kardus pembungkus paket online shop sama suami.
Sebetulnya gue mau menunjukkan gambar Gunung Olympus. Apa daya saat Googling malah kepincut ini
Gue inget dulu pernah nonton Oprah episode hoarders. Para hoarders ini kemudian dibuat serialnya. Ngeri juga yah banyak ternyata orang-orang di dunia ini yang punya kecenderungan menumpuk barang yang sebenarnya tidak mereka perlukan. Semua dibeli, dikumpulkan, dipungut, dan tidak boleh dibuang. Bahkan barang-barang yang sebenarnya layak masuk kategori sampah. Mudah-mudahan gw bukan termasuk golongan hoarders ini. Sebisa mungkin saat akal sehat masih bisa meredam nafsu belanja, gue memikirkan dahulu apakah barang yang akan dibeli ini masih ada substitusinya yang masih bisa dipakai di rumah atau nggak. Satu tips dari Oprah saat itu, ketika kita membeli satu barang baru maka kita harus mengeluarkan satu barang lama dari rumah. Apakah itu dikeluarkan untuk masuk ke tempat sampah karena sudah rusak, atau kalau masih layak kita sumbangkan kepada orang lain yang membutuhkan. Kalau di akuntansi ada istilah FIFO (first in first out), maka istilah yang tepat untuk ini mungkin OIOO (One In One Out). Ribet juga yah bilangnya, mirip suara Tarzan saat berayun di hutan.
OIOOOO.. let's go shopping ke belantara mall!! Kemudian dilempar tumpukan kardus pembungkus paket online shop sama suami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar