Belajar memasak. Memasak sendiri di rumah. Sebenarnya gue sudah pernah belajar masak saat menganggur di rumah setahun setelah lulus kuliah. Sambil melamar kesana kemari, gue belajar masak sederhana, sayur sop, sayur lodeh, sayur asem, tumis-tumis, pepes ayam, pepes tahu. Selain masakan lauk pauk sehari-hari, pernah belajar membuat cemilan, lemper, sus kering, sus vla, roti, pizza, bapao, cake sederhana, cookies standar. Idenya dari nyokap yang sebal melihat anaknya cuma tidur-tiduran ga jelas seharian di rumah. Gue dibeliin buku-buku resep dan home bakery. Terpilihlah roti unyil untuk dicoba. Siapa tahu bisa menyaingi roti unyil venus. Kita bikin roti usro.
Lemper dan sus were big hits! Sukses berat pokoknya. Pertama kali coba langsung enak, benar 100% secara penampakan dan rasa. Sus kering dan vla sampai bikin beberapa batch. Dibeli sendiri, dibuat sendiri, dimakan sendiri satu toples abis. Sisanya dibagi-bagi ke saudara, sekalian pamer, hehehe.
![]() |
| sus, hatiku meleleh karenamu gambar dari sini |
Pizza lumayan lah. Beberapa kali sukses, beberapa kali gagal. Tapi karena penggemar pizza, sementara rumah terpencil, kapan datangnya kalau harus nunggu pizza hut atau domino’s membuka layanan pesan antar dengan armada helikopter maka sering banget masak pizza.
Topping pizza seadanya yang dijual di pasar dekat rumah. Ga mungkin pasar tradisional jual olive atau oregano. Paling banter suwir ayam, kadang sapi giling, seringnya beli sosis so nice eceran di warung sebelah. Makan so nice rame rame…. Sambil gotong royong rame rame…. Pantes aja anak gue suka nonton iklan so nice, lah emaknya udah menimbun sosis itu dari bertahun-tahun lalu.
Roti entah kenapa selalu gagal. Antara kering atau bantat. Ga pernah empuk dan lembut. Menyamai roti bapuk 500 perak macam di warung dekat SD pun aku tak mampu. Sampai browsing buka segala macam resep online, ikut milis NCC, jadi member forum memasak, teteeup aja rotinya ga mengembang. Mungkin si roti tipe setia kawan, tahu yang membuat bantat juga.
Pernah juga belajar membuat pie. Kebetulan di rumah ada beberapa pinggan tahan panas. Resepnya juga nggak harus pakai mixer. Mendengar kata mixer jantung gue berasa berdetak lebih kencang. Sepertinya gue nggak berjodoh dengan adonan kue dan mixer. Alergi deh sama resep yang dikocok pakai mixer. Ujung-ujungnya selalu bantat itu kue. Gue lebih memilih mencoba kue yang diuleni pakai tangan atau dikocok manual sebentar.
Membuat pie ini diajari sama teman yang jago membuat pie. Andalannya pie buah dan pie vla jeruk. Hasilnya rata-rata lah. Bisa dimakan tapi gak bisa menyamai level teman gue. Ngomong-ngomong teman gue ini dari dulu udah memantapkan diri mau jadi SAHM (Stay At Home Mom). Jadi kalau datang ke rumahnya sering disuguhi kue-kue hasil eksperimen memasak yang jumlahnya segambreng. Hari ini belajar memasak ini, besok belajar memasak itu. Pokoknya persiapan buat jadi Ibu Rumah Tangga yang masakannya jempolan deh, TOP banget.
Gue suka kalau udah telepon-teleponan dan diajak main ke rumahnya. Suka basa-basi dulu dong, nanya tips resep ini itu, terus ujung-ujungya ditawari “ Kamu datang aja ke rumah, nanti aku ajari gimana cara bikin kue ini. Kita masak bareng-bareng aja”. Yes yes langsung gue samber lah tawaran dia. Eits tapi gue tahu diri, datang gak Cuma datang bawa perut kosong begitu aja. Ngemodal dong sedikit. Bawa terigu, bawa telur, bawa margarine secukupnya. Secukupnya sisa uang di dompet gue,maklum waktu masih pengangguran.
Kalau masak-memasak lauk pauk akhirnya jadi tuntutan. Karena diminta nyokap buat jadi juru masak rumah. Biarpun menunya gitu-gitu aja. Tapi rasa lumayan juga. Skor lumayan ini bias banget yah, soalnya yang makan Cuma gue, bokap, nyokap. Nyokap kerja jadi daripada beliau harus bangun lebih pagi buat masak, mending minta anaknya yang masak. Bokap juga kalau gak makan masakan gue berarti gak makan dong. Jadi mana tahu kalau ternyata masakan gue sebenarnya nggak enak.
Menu standar masakan sehari-hari gak jauh dari sop/sayur bening/lodeh, tempe/tahu goreng, pepes tahu/ayam, tumis kangkung/pecay/bokcoy/keciwis, sambel miskin&lalap. Kenapa sambelnya dinamai sambel miskin? Karena isinya Cuma garam, gula, bawang merah 3 siung, dan terasi seujung sendok kecil. Itu aja sih, tapi bokap suka banget sambel model begini.
Sayang seribu sayang, setelah gue dapat kerja di luar kota, kebiasan memasak ini jadi hilang. Penyebabnya karena tempat kos gue nggak ada dapur. Otomatis selama 3 tahun ngekos, gue Cuma bisa mengasah skill memasak indomie dan air panas aja. Perlahan memori gue akan cara memasak yang bener dan (mudah-mudahan) enak kehapus. Sementara kalau pulang ke rumah bawaannya manja pengen dimasakin masakan nyokap.
Akhirnya sekarang pada saat udah berumah tangga, gue udah lupa sama sekali gimana cara masak. Andalan gue sekarang Cuma orak-arik tempe, tahu goreng, sayur sop, dan telur dadar. Itupun kalau masih ada waktu nggak kesiangan berangkat ke kerja. Duuuh….. maafkan istrimu yang durhaka ini, suamiku.Tapi sebisa mungkin gue tiap pagi masak bekal makanan buat anak. Ya sih menunya itu-itu aja. Telur rebus, sayur sop daging, sayur sop ikan, pepes tahu ragout, rolade daging/rolade ikan, kukus ubi/labu, tumis-apa-aja-yang-ada-di-kulkas-tapi-tolong-bukan-es-batu.
Sebenarnya menu buat anak gue malah lebih variatif daripada menu buat kita orang tuanya. Entah kenapa gue nggak pede masak versi dewasanya. Mungkin karena masakan buat anak bumbunya Cuma bawang dan sedikit gula garam aja. Sementara kalau masak buat suami, tantangannya adalah bumbu yang lebih beragam, dengan takaran yang harus pas, setelah itu deg-degan menunggu komentar “kok nggak ada rasanya sih?” . Ya ya ya gue bisa dibilang buta rasa sekarang. Menurut gue udah berasa enak, menurut suami belum dikasih bumbu. Baiklah suami, sini aku kasih bumbu cinta, tsaaah.
Terus sekarang gimana skill memasak gue? Yah, masih jongkok sih. Meskipun kemarin gue kembali berlangganan tabloid yang ada menu masak-memasaknya. Biarpun sampai detik ini menu-menu itu baru dibaca, dan diniatkan mau dimasak di akhir pecan, biarpun baru sebatas niat, mudah-mudahan benar terlaksana. Karena niat pun sudah dianggap setengah dilaksanakan. Aamiin.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar