Rabu, 01 Juli 2015

flash update

Ramadan hari ke-14
Makin sulit update blog karena kerjaaan menuntut update sampai menit. It sucks!
Kalau ada waktu luang paling cuma beberapa menit sebelum pulang, itupun dengan koneksi internet yang lemot bingits.
JAdi apa saja yang telah terjadi akhir-akhir ini?
Mungkin karena aura Ramadan kali yah, bawaannya jadi lebih  adem, lebih toleran sama suami, lebih nggak cepat marah kalau beliau pulang malam banget. Lebih nggak curigaaan. Mudah-mudahaan terus seperti ini walaupun Ramadan udah selesai. Oh but please, don't leave too soon Ramadan!!
Sadar diri masih banyak banget kekurangan, terutama menahan amarah dan... tadarus. Ya ampun sampais ekarang amsih belum aja kesampaian tadarus. hiks...
Teraweh juga nggak sempat ke mesjid.
Ah baiklah, lebih semangat!!!

Kamis, 04 Juni 2015

sedih maaak

Hari ini sedih banget. Kemarin habis bertengkar dengan suami. Gara-garanya cemburu buta..
Tadi pagi pas diantar kerja juga masih berantem. Akhirnya kerja nggak semangat sama sekali. Untung bos besar sedang memanfaatkan kekuasaanya dengan izin di harpitnas. Akyu jadi bisa tiduran sesiangan di mushola. Bangun-bangun udah ada makan gratis dari teman kantor yang berbaik hati membawa masakan khas Medan. Welcom to the tummy, sayur singkong tumbuk! Pleus telor bumbu tauco dan ikan asin balado. Yummy... semoga rejekinya tambah lancar yah bang!
Update selanjutnya besok

Selasa, 14 April 2015

tentang kehilangan, (mbak) sang procrastinator dan cerita lainnya

Nah ini dieee... gue lama ga update blog gegara satu hal penting; lupa password. Mak lampir!! sunguh lupa samsek. Manalah akun pemulihannya pake nomor hp yang udah tewas bulan lalu. Jadi ya begitulah, gue harus semedi tiga hari empat malam plus makan tiga kali dan coffee break dua kali sehari dalam usaha mengingat-ingat password blog ini. Maapkeun para pembaca yang budiman  telah lama menunggu terbitnya blog stensilan ini.

Eniwey, bulan lalu beberapa hal terjadi.
My grand father passed away five days before his 85th birthday. It's a predictable devastation, in my word. Since months ago he was suffered from stroke and regularly visiting hospital ever since. His life willing were drastically drained. And now i even can't write any proper word because tears are falling apart. I love him, and I pray for him, may the best afterlife joy and indulgence come upon you.  I'll share  the details, later.

Hal lain, seperti biasanya terjadi kericuhan dalam pembuatan SPT tahunan yang ampun dijah sampai detik terahir baru beres lapor. Gw beneran jadi pelapor terakhir di kantor pajak tanggal 31 Maret kemarin. Tadinya sih mau e-filling aja, apa daya sepertinya server di kantor terlalu lemah untuk  menerobos masuk ke website pajak yang juga hari itu diserbu para procrastinator seluruh Indonesia. Akhirnya gw bedol desa bawa sisa SPT yang belum sempat masuk ke kantor pajak terdekat. Alhamdulillah pelayanan di kantor pajak ini sangat menyenangkan. Nggak seperti kantor pajak yang itu tuuuh yang deket mal jualan HP ituu, yang udah mirip hajatan tiap tahun pasang tenda biru, dan dilayani oleh petugas yang judesnya nggak ketulungan.

Di kantor pajak ini, pelayanannya amboi sungguh baik. Gue ditanya dari sejak masuk ada keperluan apa sama pegawainya, dikasih petunjuk yang jelas sejelas jelasnya kalau mau A ke counter B, kalau mau C ke counter D. Antriannya juga nggak sebarbar KPP sebelah. Semua orang duduk manis di kursi tunggu, nggak bergerombol rebutan formulir macam ibu-ibu antri sembako murah pas mau lebaran. Bonusnya, petugas yang melayani e-filling masih pada kinyis-kinyis, banyak senyum, daaan gongnya adalah gw sepanjang transaksi e-filling dipanggil "mbak" oleh petugasnya. Ooh mbak petugas pajak yang imut, you really made my day, *langsung balik berendam lagi di mata air keabadian*

Highlight lainnya, pengasuh Tipo yang lama resign. Hiks... gue-sedih-banget-banget-banget. Soalnya bibi ini baiik banget sama keluarga gue dan terutama Tipo. Pokoknya di tangan dia, Tipo bisa ditaklukkan. Mau mandi gak pake lama, mau makan ga pake sedikit, mau bobo siang nggak pake rewel, wangi dan terurus deh pokoknya. Kalau gue lagi kepepet dan nggak sempat masak makanan Tipo, bibi mau masakin makanan sesuai rekues .

Satu-satunya minus adalah dia nggak mau datang ke rumah. Jadi selama ini Tipo yang pulang pergi diantar jemput ke rumahnya tiap senin-jumat. Dulu sih pertimbangan bakal cuma sebulan atau dua bulan sambil mencari pengasuh yang mau tinggal di rumah. Eh keterusan aja sampai 10 bulan. Bulan lalu kita pisah baik-baik (emangnya pacaran?), karena anaknya mulai kerja lagi dan cucunya nggak ada yang jaga. Sempat deg-degan karena sampai batas hari terakhir bibi kerja belum ada penggantinya. Udah nyaris putus asa di hari Minggu terakhir,  dan sepakat sama suami membuat keputusan untuk mengungsikan Tipo ke rumah nenek dulu.  Alhamdulillah, magrib-magrib datanglah sang pengasuh baru ke rumah. Pengasuhnya masih tetangga sekitar bibi. Tadinya si pengasuh pengen pulang nggak terlalu sore, yang mana susah laaaah... mana bisa gue sampai rumah jam 3 sore? Paling cepat jam setengah 5 atau jam 5 sampai ke rumah, dengan catatan nggak hujan/banjir/macet. Akhirnya deal dengan jam kerja 7-17.

Suami dan gw sengaja nggak mencari ART/pengasuh yang tinggal di rumah, dengan berbagai pertimbangan. Terutama karena dulu sempat ada ART yang tinggal di rumah, tapi kerjanya cuma pacaran sama izin nginep di rumah teman terus. Capek gue, niatnya pengen ada yang bantuin mengurus bayi, yang ada gue berasa mengurus anak bayi DAN anak ABG. Privasi *ehem* juga menjadi pertimbangan, gue masih berasa risih kalau ada orang lain di rumah. Nggak enak rasanya kegep lagi garuk-garuk bokong sambil makan sate padang, ya kan? Ya kan?
Satu cerita tentang privasi dan ART versi teman gue yang punya pengalaman dilihatin dari ujung kepala sampai ujung kaki pas keluar dari kamar mandi oleh ARTnya. Apa yang salah dari keluar kamar mandi sampai harus discan bolak-balik begitu? Nggak ada yang salah sih. Cuma waktu itu teman gue mandi jam 3 pagi setelah "lembur". Apa yang salah dengan mandi jam 3 pagi setelah "lembur"? Nggak ada yang salah sih. Cuma teman gue aja jadi salah tingkah diperhatikan ARTnya. Apa yang salah dengan pengalaman teman gue ini? Nggak ada sih. Cuma gue kok jadi canggung menceritakan kembali kisah ini. Padahal aslinya teman gue ini heboh bener mendongeng sampai kita semua ketawa ngakak sambil nangis.

Mulai bulan ini semua staf di kantor diwajibkan membuat log book pekerjaan harian yang bisa diakses real time sama bos besar. Makdarit, waktu leha-leha gue di kantor semakin berkurang. Kalau kemarin-kemarin gue bisa pura-pura kerja ngetak-ngetik ini itu padahal browsing dan blogging, sekarang gue harus menyesuaikan pencitraan dengan laporan. *haish*

Apalagi ya, lupa nih.
Nanti deh gue sambung lagi kalau inget. Ciao by now.

Selasa, 24 Maret 2015

gaptek to the max

waduh, gimana sih cara mengedit tampilan blog?
Garuk-garuk kepala.
                                                                         dari sini

minggu pagi dan tiga bule brewok


Gambar dari sini


Hari minggu kemarin yang sungguh cerah ceria menggugah indera untuk pergi tamasya, kita sekeluarga mendapat ilham untuk jalan-jalan ke..... *drum roll* ..... car free day.
Halah pergi ke CFD doang dibangga-banggain, begitu pikir pembaca yang budiman. Oh permisi mbak, mas, budhe, pakdhe, oma, opa, buat keluarga kita, bisa keluar rumah di hari libur jam 07.30 itu adalah pencapaian yang luar binasa. Biasanya kita cuma untel-untelan di kasur seharian sampai sore. Entah kenapa hari itu kita bisa berperilaku seperti orang normal kebanyakan, yaitu mengiyakan ajakan tetangga sebelah untuk bareng-bareng ke CFD  dan BENAR-BENAR pergi ke sana.
Ga pake mandi dulu sih, cuma cuci muka, gosok gigi, dan korek ilet dan upil sebentar.

Meskipun judulnya sebentar, ternyata aktivitas itu menghabiskan waktu 30 menit. Sebenernya sih cuci muka dkk ngabisin 10 menit aja. Terus 20 menit sisanya ngapain aja? Gue mencari-cari kaos kaki, saudara-saudara. Masa pake sepatu olahraga tapi nggak pake kaos kaki? Kan kebangetan.
Terus kaos kakinya ketemu? Ketemu sih, sebelah. Terus sebelahnya lagi pake apa? Err... pake manset tangan. *dikeplak berjamaah para anggota PHSI (Persatuan Hijaber Seluruh Indonesia)*
Ah sudahlah, yang penting si manset tangan yang dialihfungsikan sebagai kaos kaki ini bisa tersarukan oleh sepatu dan celana.


Off we go! Sampai di perempatan, pas lampu merah. Lampu merah di perempatan sini terkenal lama, bisa bikin kita menunggu antara 3-5 menit. Tipo asik lirik kanan kiri, takjub melihat abang-abang pedagang asongan menawarkan dagangannya. Gue asik ngobrol sama suami. Tiba-tiba di taman separator arah yang berkebalikan dengan jalur kita, gue melihat penampakan tiga orang mister bule. Sungguh aneh, di hari minggu pagi ini tiba-tiba melihat penampakan yang membuat lidah mengucap tasbih dan tahmid. Salah satu dari mister bule ini sungguh rupawan. Kaosnya sih belel, celananya juga udah bladus, tapi kacamata hitamnya keren, dan wajahnya brewok yang udah seminggu nggak kena cukur tapi  cakeup tiada tara. Dua bule yang lain nilanya biasa aja lah, same-same, so-so  cenderung nggak terurus gitu.

Setelah beberapa waktu sibuk mengagumi mister brewok berkacamata hitam, gue disadarkan oleh tatapan tajam suami dan satu pertanyaan. Ngapain mereka di sini?
Daerah ini bukan tujuan wisata, dan juga bukan daerah dimana turis-turis berkeliaran. Apakah mereka tersasar? Kalo iya kesasar, kenapa jauh bingits? Apa mereka ditipu calo angkot? Yang kalau ditanya "Bang angkotnya lewat jalan X ngga?" jawabannya "lewat neng" tapi dalam hatinya "... lewat-in dulu mayat gue sebelum eneng naik angkot lain.", terus kemudian diturukan di tengah jalan.

Setelah gue perhatikan lagi, kali ini dengan disertai ucapan basmalah biar nggak lupa diri kelamaan memandang yang bukan muhrim lebih dari tiga detik, tiga bule ini sedang mengacungkan jempol mereka. Ooh rupanya mereka mau menumpang mobil yang lewat. Lalu gue mikir lagi, sambil curi-curi kesempatan lebih tajam mengamati mister cakep berkacamata hitam. Kalau iya mereka mau menumpang mobil yang lewat, kenapa mereka ngacungin jempol di separator sebelah KANAN? *tepok jidat barbie bahar*

Yaelah, mau ngacungin jempol sampai kapalan juga nggak bakal ada mobil yang berhenti dan berbaik hati mengangkut kemanapun tujuan bule-bule itu pergi. Wong mereka berdiri di separator sebelah kanan, jalur cepat.
Tragisnya, di seberang sana, nggak ada orang atau abang asongan yang memberi tahu kalau mereka berdiri di jalur yang salah. Mungkin nggak ada yang cukup pede ngasih tau juga kali yah. Mister-mister bule ini juga sepertinya baru bangun tidur atau masih ngantuk, sampai nggak sadar kalau di Indonesia, setir itu di kanan, dan cari tumpangan itu di sebelah kiri.
Tadinya gue mau ngajak suami buat puter balik dan ngasih tau bule-bule itu kalau mereka berdiri di tempat yang salah, Tapi lampu keburu hijau, dan mobil udah kepalang masuk di jalur yang lurus.
Bagaimana nasib ketiga bule tadi? Gue sampai kepikiran terus loh, pas pulang dari CFD dan lewat perempatan yang sama, gue nanya ke suami "Kira-kira mereka tadi akhirnya dapat tumpangan apa nggak yah?", yang dijawab suami "Udah laper lagi nih, kita mampir ke rumah sodara yuk, numpang makan di rumahnya". Doh.


Senin, 23 Maret 2015

sang kupu-kupu hinggap di rak buku

Kemarin buku gue akhirnya datang juga. Setelah desperately dying,  counting days, waiting for the package to come, selama kurleb 15 hari kerja. Yahui… packagingnya tsakep loh. Mirip-mirip dus pizza gitu. Bukan sekedar dus bekas kedegean yang dipas-pasin sama ukuran bukunya  atau sekedar dibungkus bubble wrap dan kertas semen. Beneran kardus costumized buat periplus.  Sayang, saking senangnya buku-buku itu sampai, gue lupa aja ga foto penampakan kardus mencengangkan ini.

Balik lagi ke buku, dengan total kerusakan sekitar Rp 250.000,- gue mendapatkan 5 buah buku yang masih mulus dan baru. Tadinya harap-harap cemas karena buku yang gue beli mayoritas buku diskon 70-80% dengan keterangan bahwa toko bukunya “mengusahakan akan mengirim buku dengan kondisi yang paling baik”. Siapa tahu kalau itu buku ternyata bekas display di rak toko yang saking keseringan dibaca oleh para free rider haus ilmu nan kantong kering , ujung halamannya banyak bekas tanda liur. Yucks!! How I hate those old school people who mark book and money with their saliva. 

                      Apakah Oom Hannibal juga melinting cerutunya dengan air liur? 

Sungguh dangkal pertimbangan gue hari itu. Buku yang dipilih lebih ke cap cip cup supaya pas itungannya jadi 250 ribu biar ga kena ongkir.  Ada siih beberapa buku incaran yang ternyata belum diskon. Akhirnya dipilihlah satu buku inceran yang diskon sedikit, satu buku diskon lumayan dan tiga buku yang harganya terjun bebas.  Sebelumnya baca-bici sekilas review dari goodreads, jadi nggak buta-buta banget tu buku dipilih. 
Sekarang lagi baca Still Alice, bikin kecanduan nih. Nggak sabar baca tiap halaman, dan nggak rela kalau tiba-tiba harus bersambung karena kerjaan memanggil. Begini nasib baca buku sambil nyolong waktu. Pas lagi seru-serunya membaca, tiba-tiba aja ibu obos menitahkan hamba sahayanya untuk kerja rodi. Ya menurut ngana, situ dibayar buat kerja apa baca novel?  Kadang feelingnya beda lagi begitu mulai baca terusannya. sigh.

Meskipun gue baru tersadar karena menghabiskan seperempat juta aja buat beli buku, kalau dipikir-pikir ya cukup lah. Hari gini mana ada waktu buat gue datang ke pameran buku dan menggeledah setiap tumpukan buku diskon seharian? Ongkos kirim gratis pula. Jadi rasa bersalah itu gue singkirkan baik-baik dan secepatnya, secepat gue menyingkirkan invoicenya dari pandangan suami.

Sekilas tentang novel yang kemarin filmnya masuk  nominasi Oscar ini, Still Alice bercerita tentang seorang akademisi Harvard yang menderita Alzheimer. Wanita karir cerdas yang karirnya cemerlang tiba-tiba harus merelakan hidupnya dikuasai penyakit yang melumpuhkan memori.  Bagaimana perjuangannya menghadapi hidup setelah Alzheimer? Bagaimana nasib profesi dan almamater yang sangat dibanggakannya? Bagaimana lika-liku hubungannya dengan suami dan anak mantu?  Nantikan kelanjutan ceritanya, karena saya juga baru membaca sampai halaman 102.
                                         Gambar sampul bukunya dari toko ini

Update-update, emak kuper ini baru tau loh kalau ternyata Julianne Moore menang Oscar 2015 sebagai aktris terbaik atas perannya sebagai Alice Howland di film Still Alice. Wowow, jempol dua diacungkan ke udara! Jadi penasaran pengen nonton filmnya juga. Trus pas baca susunan pelakon di film ini, ternyata yang berperan sebagai Lydia, anaknya, adalah K-Stew. Gue boleh dibilang benci tapi sayang sama K-Stew ini. Abisan, anaknya keren dan tomboy heits tapi kok main film cupu macam twilight siiih. Iya sih gara-gara jadi vampir kajajaden *jadi-jadian* ini beliau menjadi idola umat manusia seantero jagat raya. Tapi gue pribadi sebagai orang yang sukses ketawa ngikik di bioskop pas nonton adegan bantai-bantaian antara Volturi dan Cullens, kok sayang yah lihat mbak K di situ. Entah kenapa. Jangan tanya alasan yang valid. Sungguh akupun tak mengerti jalan pikiranku sendiri, Buru-buru pasang jampi, moga-moga nanti malam nggak digigit vampir.
                                       Aku lebih suka vampir yang ngganteng ini

Ah lanjut maning baca Still Alice.Cusss!

Rabu, 04 Maret 2015

I feel sorry for you

I feel sorry for you. Because you are a mother of a cute little girl, who might be in the future be damned to have the same story like me. What would you say to her when it happens? Would you like to say lightly “just take it easy. I was in the whore shoes, and I felt okay to do the sin” ?

I’m lucky enough to have  my whole family supporting  through this hard time. What about your daughter then? There will be no father who whole-heartedly defend  for her since he even didn’t want your little girl to be born.

I feel sorry for your parents. What will they say when the judgments day come?
To face the questions
 “why didn’t you two taught her to have dignity?” ,
“why didn’t you two taught her not to steal someone else’s belonging?”,
“why didn’t you two taught her that adultery is an unforgivable sin?”

I feel pity for you, because you  are trying so hard to put a show into the socmed frenzy.  He never concedes you as her lover, thus you self proclaiming both of you as husband and wife. and proudly parading your explicit photos to the world. I bet you're too busy snapping photo here and there to remember there's an IT law waiting for you now, 

I feel pity for you. Because you were in my shoes before. Therefore you do know the pain, the humiliation, the endless question of “why” that haunting your dream every night. Yet you turn yourself into the same person that you once describe as “disgusting woman shamelessly threw herself at my heartless (ex) husband.”.

And for all of your terrorizing phone calls, day and night, i said "thank you."
Now i know who you are, how to put the puzzles into one complete picture, and to be BRAVE.